Waspadai Beberapa Sikap Keliru Dan Menyimpang Terhadap Para Istri Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam

WASPADAI BEBERAPA SIKAP KELIRU DAN MENYIMPANG TERHADAP PARA ISTRI NABI SHALLALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Oleh
Syaikh Prof. Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr

Setelah kita mengetahui beberapa kemulian para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dari mulai kedudukan, posisi, derajat, gelar sampai status mereka, maka layak untuk dicatat dan diwaspadai beberapa sikap dan tindakan melenceng serta doktrin-doktrin sesat yang ditujukan kepada para istri Nabi sebagai upaya untuk menodai kemuliaan, kebaikan dan kesucian meraka.

Inilah beberapa potret dari sikap keliru dan melenceng yang ada pada komunitas dan golongan sesat. Golongan ini tidak lain adalah orang-orang syiah râfidhah yang busuk. Sehingga rasa kaget dan heran seorang Muslimpun tidak akan pernah berakhir setiap kali membuka dan membaca apa yang lontaran-lontaran mereka terhadap para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui buku dan artikel-artikel dusta mereka. Para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tak lepas dari caci maki, penghinaan dan pengkafiran mereka. Semua itu dipicu oleh kedengkian dan kebencian yang sudah lama terpendam dalam hati yang sudah menjadi daging pada jiwa meraka.

Berikut ini adalah beberapa ringkasan tentang sikap keliru dan melenceng. Karena sebenarnya buku-buku mereka itu penuh dengan kesesatan dan kedustaan, jadi setiap pernyataan yang saya kutipkan semuanya tercantum dalam dokumentasi catatan mereka dan tertulis dalam kitab-kitab induk pegangan meraka.[1]

1. Kemarahan dan ketidakpuasan mereka atas penyebutan istri-isrti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Ummahâtul Mukminin (ibunda kaum Mukminin) terutama terhadap Aisyah Radhiyallahu anhuma.

Ibnu al-Mutahahhar al-Hali seorang tokoh syi’ah râfidhah berkata, “Mereka ahlussunnah wal jamâ’ah menamakan ‘Aisyah sebagai ibunda kaum Mukminin akan tetapi tidak menamakan istri-istri lainnya dengan sebutan itu.”[2]

2. Tokoh syi’ah Muhammad Baqir al-Majlisi mengatakan dalam kitabnya (Haqqul Yaqîn, hlm. 519), “Kepercayaan kami mengenai tabarru’ ialah bahwa kami berlepas diri dari empat berhala (Abu Bakar, Umar, Utsman dan Mu’awiyah) serta empat orang wanita (Aisyah, Hafshah, Hindun dan Ummu Hakam) serta semua pengikut mereka dan golongan mereka. Mereka adalah makhluk Allâh yang paling jahat di muka bumi. Sesungguhnya tidaklah sempurna keimanan kepada Allâh, Rasul-Nya dan para imam kecuali jika seseorang telah melepaskan diri dari musuh-musuh mereka.”

3. Doa yang dikenal dengan doa Shanamai Quraisy yang artinya dua berhala kaum Quraisy maksudnya adalah Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu . Doa ini mereka lantunkan di setiap pagi dan petang sampai saant ini. Doa ini banyak tertulis dalam buku-buku sesat mereka, “Ya Allâh berikanlah shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad serta kepada ahlu baitnya, laknatlah dua berhala Quraisy (yaitu Abu Bakar dan Umar ), kedua syaitannya, kedua thagutnya, dan kedua dustanya, dan laknatlah kedua putri mereka (yaitu Aisyah dan Hafshah), yang keduanya (Abu Bakar dan Umar) telah menyelisihi perintah-Mu dan mengingkari wahyu-Mu, dan mengingkari anugrah-Mu, bermaksiat kepada Rasul-Mu, dan telah membalikkan agama-Mu …”

Mereka dusta dalam penisbatan do’a ini kepada Ali Radhiyallahu anhu . Mereka mengatakan bahwa Ali Radhiyallahu anhu mengatakan, “Barangsiapa membaca doa ini maka ia seperti ikut berperang bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemanah dengan satu juta anak panah dalam perang Badar, Uhuddan Hunain”

Ini dinukilkan dari buku Ilmul Yaqin” karangan Muhsin al-Kasyâni. (2/701)

Akan tetapi sangatlah mustahil seorang Amîrul Mukminin Ali bin Abi Radhiyallahu anhu menyatakan hal ini. Jadi ini sebuah kedustaan yang sangat jelas dan nyata.

4. Menurut Ulama Syiah al-Majlisi dalam kitabnya (‘Ainul Hayah, hlm. 599), bahwa Ja’far as-Shadiq setiap kali selesai shalat lima waktu dia selalu melaknat empat orang laki-laki dan empat orang wanita, yaitu at-Taimi dan al-Adawi (Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu ), Utsmân Radhiyallahu anhu dan Mu’awiyah Radhiyallahu anhu sambil menyebutkan nama keduanya, Aisyah dan Hafshah serta Hindun dan Ummu Al Hakam saudara perempuan Mu’awiyah” Padahal sangatlah mustahil Imam Ja’far mengatakan hal ini.

5. Mereka (golongan syiah) juga berkeyakinan sebagai mana tercantum dalam buku (ash-Shirât al-Mustaqîm karang al-Bayadhi, 2/168) “bahwa Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Hafshah Radhiyallahu anhuma serta Abu Bakar Radhiyallahu anhu dilaknat oleh Allâh Azza wa Jalla karena mereka bertiga bersekongkol membunuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan racun.”

6. al-Majlisi juga menyatakan dalam bukunya (Hayâtul Qulûb 2/700), “Sesungguhnya Aisyah Radhiyallahu anhuma dan Hafshah Radhiyallahu anhuma yang Allâh laknat keduanya dan kedua bapak mereka, mereka telah membunuh Rasulullah dengan racun, yang telah mereka rencanakan.”

7. al-Ayâsyi, mufassir syiah mengatakan dalam tafsirnya (2/269), maksud dari ayat :

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali [An-Nahl/16:92]

Orang yang dimaksud adalah Aisyah yang mencabut kembali keimanannya, menjadi murtad keluar dari Islam.

8. Mereka tokoh-tokoh Syiah juga memiliki kepercayaan bahwa Aisyah Radhiyallahu anhuma termasuk penghuni neraka dan bukan termasuk golongan orang yang beriman. Sebagaiman tercatat dalam tafsir surat al-Khijr karya al-Ayasyi.

9. Al-Qummi ulama rujukan Syiah menyatakan dalam tafsirnya (241)”Ketika al-Imam Mahdi (versi mereka) bangkit, ia akan mencambuk ‘Aisyah sebagai hukuman qadzaf baginya.”

10. Muhamad Shadiq as-Shadri salah satu tokoh ulama baru Syiah mengatakan, “Faktanya, barangsiapa membaca dengan teliti sejarah kehidupan Aisyah maka ia akan mengetahui tentang Aisyah yang kerap menyakiti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui tindakannya, kata-katanya serta tingkah lakunya.

11. an-Nabathi tokoh Syi’ah dalam kitabnya menempatkan dua pembahasan khusus sebagai tuduhan terhadap Aisyah Radhiyallahu anhuma serta Hafshah Radhiyallahu anhuma. Pembahasan pertama ia berikan judul “IBU KEJAHATAN” yang dimaksud adalah Aisyah Radhiyallahu anhuma , pada bagian ini ia bawakan beragam cercaan dan bermacam tuduh keji terhadap istri terhormat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sampai ia sebut sebagai setan wanita. Sedangkan pembahasan kedua ia membahas saudari Aisyah yaitu Hafshah Radhiyallahu anhuma .

12. Mereka juga menulis dan menyebutkan dalam tafsir-tafsir meraka, yaitu tentang maksud firman Allâh Subhanahu wa Ta’ala :

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تَذْبَحُوا بَقَرَةً

Sesungguhnya Allâh menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina [Al-Baqarah/2:67]
yang dimaksud sapi pada ayat ini adalah Aisyah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan beberapa tindakan konyol yang dibudidayakan oleh tokoh-tokoh Syiah adalah perayaan yang dilakukan setiap tahun pada hari tertentu dengan membawa seekor kambing merah (dengan alasan bahwa Aisyah dijuluki sebagai “Humaira” julukan Nabi untuknya yang berarti wanita berkulit pipi kemerahan) kemudian mereka jadikan kambing itu seperti Aisyah Radhiyallahu anhuma lalu mereka siksa dengan mencabuti bulunya dan berbagai macam siksa kejam lainnya.[3]

Semua kata-kata di atas pastinya membuat panas telinga dan sangat menyakitkan hati, akan tetapi semua itu perlu dikemukakan agar kaum Muslimim mengetahui dan memahami apa yang kaum Syi’ah lakukan dari pelbagai sikap dan tindakan licik yang mereka arahkan kepada istri-isrti Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahkan kepada para Shahabat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum. Karena pada dasarnya kitab-kitab meraka sangat penuh dengan fitnah, hinaan dan pengkafiran para Shahabat, padahal para Shahabat adalah generasi terbaik dan umat pilihan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Apa yang disebutkan kali ini tidak lain hanyalah sekilas dan sebagian kecil dari berbagai macam caci maki dan kebohongan yang meraka lakukan terhadap para istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Tentunya hal semacam ini bukanlah sesuatu yang mengherankan, karena faktanya kebohongan dan fitnah yang mereka lakukakan terhadap para shahabat yang menjadi generasi terbaik sesudah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam itu sudah mejadi kegemaran dan kebiasaan mereka apa lagi ditambah dengan konsep agama mereka seperti mengkafirkan, menuduh, mencaci maki dan mencela generasi pilihan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Sikap-sikap yang talah dipaparkan ini tentunya membawa dampak negatif, bahaya yang besar dan bentuk kekufuran nyata yang akan kembali pada diri mereka sendiri, diantaranya seperti keyakinan mereka mengenai (tabarru’) yaitu berlepas diri dari para Shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kebiasaan mereka menfitnah dan mencacimaki para shahabat, keyakinan mereka juga bahwa para Shahabat Nabi adalah makhluk Allâh yg paling jahat, keyakinan akan Abu Bakar Radhiyallahu anhu dan Umar Radhiyallahu anhu yang telah menyelisihi perintah Allâh, mengingkari wahyu dan anugrah-Nya, bermaksiat kepada Rasul-Nya, dan telah membalikkan agama-Nya dan tuduhan mereka terhadap Abu Bakar Radhiyallahu anhu , Umar Radhiyallahu anhu , Aisyah Radhiyallahu anhuma serta Hafshah Radhiyallahu anhuma , yang mereka tuduh telah bersekongkol dan berencana untuk meracuni serta membunuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , diantara sikap mereka juga adalah tuduhan terhadap Aisyah Radhiyallahu anhuma telah berbuat zina dan murtad dari Islam, sebutan “IBU KEJAHATAN”, “WANITA SETAN” baginya dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kita berlindung kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala dari jalan orang-orang yang sesat, jalan orang-orang Yahudi dan Nasrani, sebagaimana kita memohon pada-Nya agar disatukan bersama kaum Mukminin dan bertakwa.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). [Ali Imran/3:8]

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. [Al-Hasyr/59:19]

Inilah beberapa poin penting yang bisa kami kumpulkan terkaitan firman Allâh Azza wa Jalla :

وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ

Isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka [Al-Ahzâb/33:6]

Semoga Allâh Azza wa Jalla menjadikan usaha ini sebagai amalan yang ikhlas karena-Nya, diterima di sisi-nya dan sebagai bentuk sumbangsih yang bermanfaat bagi kaum Muslimin semua.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 03-04/Tahun XVIII/1436H/2014M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
_______
Footnote
[1]. Dalam masalah ini, penulis (Syaikh Abdurrazaq) banyak mengambil faidah dari kitab Aujazul Khitâb fi Bayâni Mauqifis Syi’ah minal Ashhâbi karya Abu Muhammad al-Husaini
[2]. Lihat bantahan Syaikhul Isalam Ibnu Taimiyah kepada perkataan al-Muthahhir dalam kitab Minhaj as-Sunnah : 4/368
[3]. Minhajus Sunnah, 1/49

 

Sumber : Almanhaj.or.id